Kamis, 28 Februari 2013
Rabu, 02 Januari 2013
MINERAL
A. Alterasi dan Mineralisasi Daerah Sangkaropi
Mineral
alterasi merupakan mineral yang mengalami ubahan baik dalam bentuk
fisik maupun komposisi kimia dan kemudian membentuk mineral baru akibat
factor factor tertentu. Berdasarkan data-data dan adanya indikasi yang
diperoleh dilapangan dan perbedaan mineral yang terbentuk yang
diakibatkan oleh pengaruh meningkatnya pH,yang kemudian di hubungkan
dengan beberpa teori yang telah ada maka pada daerah penelitian ini
dapat dibagi atas beberapa kelompok mineral alterasi yaitu:
1. Kelompok Kaolin
Mineral
mineral yang dijumpai dilapangan yang kemudian digolongkan sebagai
mineral pada kelompok Kaolin adalah mineral Kaolin. Mineral kaolin ini
pada daerah penelitian dijumpai di stasiun 4 yang berada disepanjang
jalan yang terletak disebelah Utara Barat laut pada peta yaitu
disekitar daerah Todo,dan Berdasarkan pada interpretasi model topografi
pada peta maka dapat diperkirakan bahwa mineral ini menyebar relatif
pada arah Barat Daya tenggara. Kaolin sebagai kelompok mineral Illit,
merupakan hasil alterasi atau ubahan karena faktor kimia yang terbentuk
pada kondisi pH yang lebih tinggi (pH = 4), serta faktor temperatur yang
mengakibatkan, mineral-mineral yang kaya akan unsur silika berupa unsur
magnesium dan potasium mengalami pelapukan dan hancuran membentuk
mineral kaolin bersama dengan itu alunit-andalusit-korundum berada
dalam pH antara 3 – 4. hallosit umumnya terbentuk akibat pengayaan atau
supergen walaupun kadang terbentuk dari larutan hidrotermal. Mineral
kaolin terbentuk pada temperatur yang rendah (150 – 2500C) pada
kedalaman yang kecil (dangkal).
2. Kelompok Illit
Selanjutnya
mineral mineral yang dijumpai dilapangan yang dijumpai sebagai mineral
hasil alterasi dari mineral yang telah ada sebelumnya yang kemudian
diklasifikasikan sebagai kelompok mineral Illit adalah mineral serisit,
yang dijumpai pada stasiun delapan 8. Kelompok mineral ini terbentuk
pada kondisi pH antara 4 – 6 sedangkan pada pH transisi (4 - 5)
berasosiasi dengan kaolin,kelompok mineral ini terbentuk pada temperatur
> 200 – 2500 C. Mineral serisit yang dijuumpai dilapangan nampak
relatif berwarna merah dengan bentuk pipih melembar. Mineral serisit
merupakan hasil ubahan dari mineral feldspar baik dari mineral
plagioklas maupun ortoklas yang menyusun batuan yang bereaksi dengan
unsur hidrogen ,pada proses ubahan feldspar tidak hanya menghasilkan
serisit tetapi menhasilkan juga kuarsa sebagai mineral asosiasi. Mineral
serisit maupun kuarsa ini terbentuk dari hasil ubahan mineral feldspar
yang berubah menjadi serisit serta kuarsa. Mineral serisit yang dijumpai
didaerah penelitian ini berbatasan dengan lapisan mineral klorit dan
berdasarkan pada interpretasi peta topografi yang mana bahwa penyebaran
mineral ini relatif mengikuti arah kemiringan topografi yaitu menyebar
dari Barat Laut ke Tenggara.
3. Kelompok Calc Silika
Adapun
mineral yang dijumpai dilapangan sebagai kelompok mineral calc silika
adalah mineral Zeolith . Zeolith ini dapat dijumpai pada stasiun 4
dengan ciri fisik warna hijau yang berasosiasi dengan kaolin.. Zeolith
merupakan mineral hasil alterasi karena batuan asal yang kaya akan
unsur feldspar atau silika di intrusi oleh batuan beku lain sebagaimana
dijumpai pada daerah penelitian nampak adanya intrusi dasit porphyri
selain terjadi interaksi dengan lingkungan sekitarnya dan reaksi dengan
unsur tertentu Kelompok mineral ini terbentuk pada kondisi pH yang
netral hingga basa. Zeolit terbentuk pada temperatur yang lebih rendah
daripada mineral yang termasuk sebagai mineral calc silika. Mineral
“hydrous zeolite” (natrolit, karbasit,mordenit, stibnite, heulandit)
terbentuk pada kondisi yang dingin sedangkan mineral “hydrated zeolite”
(laumonit, wairakit). dijumpai pada kedalaman yang besar dan pada
kondisi yang panas pada sistem hidrotermal
4. Kelompok Silika
Mineral
yang termasuk sebagai kelompok mineral silika adalah mineral yang kaya
akan unsur Si. Adapun mineral yang dijumpai dilapangan sebagai kelompok
silika adalah mineral Kuarsa .Kuarsa dapat dijumpai pada stasiun 1
merupakan mineral hasil mineralisasi pada bentuik bentuk vein kuarsa ini
terbentuk karena adanya magma yang bersifat volatil yang berupa unsur
gas dan uap kemuidan bergerak menuju permukaan bumi kemudian mengisi
batuan samoing yang telah ada kemudioan membeku membentuk mineral
kuarsa. Dijumpai pula adanya mineral Tras yaitu pada stasiun 7 yang
merupakan mineral yang berupa alterasi nonhidrotermal, pada awalnya
mineral ini berasal dari batuan hasil vulkanik yang kaya akan mineral
mineral feldpsar,kemudian mengalami replacement atau lebih tepatnya
mengalami pencucian kemudian mengalami pengayaan berupa unsur silika .
Tras pada daerah penelitian dapat dijumpai menyebar pada arah relatif
utara selatan mengikutii model topografi pada daerah tersebut. Selain
kelompok mineral mineral tersebut yang dijumpai sebagai hasil alterasi
dijumpai pula mineral mineral lain ,yaitu antara lain berupa Azurit dan
Malacite dengan ciri fisik berwarna hijau yang dapat dijumpai pada
stasiun tiga dan dua . Mineral-mineral ini merupakan salah satu mineral
yang mengalami proses alterasi dari batuan yang mengandung unsur Cu
,yang mana ketika terjadi proses pelepasan unsurunsur Cu nya kemudian
bereaksi dan berikatan dengan unsur unsur yang ada di udara membentuk
mineral baru.
B. Zona Mineralisasi Daerah Sangkaropi
Mineral-mineral
yang dijumpai sebagai hasil mineralisasi larutan magma yang bereaksi
larutan hidrotermal. Mineralisasi merupakan proses pembentukan mineral
mineral baru. Salah satu ganesa mineral mineral yang terbentuk sebagai
hasil mineralisasi pada daerah penelitian merupakan salah satu jenis
endapan mineral Hidrotermal Submarine yang terbentuk Karena pengaruh
gaya extension tektonik yang terbentuk pada back arc basin hal ini di
indikasikan oleh batuan asalnya yang bersifat intermediate to felsic
rocks ,adanya mineral mineral yang kaya akan unsur Cu serta Zn yang
menunjukkan bahwa terdapat black and white smokey, serta di stasiun 1
nampak adanya proses replacment dimana mineral mineral mengalami proses
oksidasi membentuk hematit,dan pada daerah penelitian tepatnya di
stasiun 2 nampak dijumpai adanya stocworcks yaitu rekahan rekahan yang
terisi oleh mineral mineral berupa mineral feldspar. Pada daerah
penelitian ini unsur sulfur yang relatif berwarna kuning cukup banyak
dijumpai di beberapa stasiun daerah penelitian yang mana untuk ciri
endapan yang demikian sering di sebut sebagai tipe endapan oko yang
mirip kuroko. Pada daerah penelitian Mineral mineral yang dijumpai
sebagai hasil mineralisasi yang kemudian di bandingkan serta dihubungkan
dengan klasifikasi menurut M Bateman terdiri atas :
1. Pirit,
pirit dengan rumus FeS2 , pada daerah penelitian dijumpai dalam bentuk
endapan mineral secara dissaminated yaitu bentuk mineralisasi yang
menyebar.Mineral pirit ini dijumpai di beberapa stasiun pengamatan
yaitu di stasiun 1,2 dan 5. Proses pembentukan pirit ini berasal dari
pembekuan magma yang mengalami pengaruh hidrotermal ataupun berasal
dari rekasi mineral mineral tertentu seperti feldpar dengan piroksin
serta adanya pengaruh larutan hidrotermal
2. Kalkopirit,
mineral ini merupakan salah satu jenis mineral sulfida yang terbentuk
dari persenyawaan unsur Cu ,Fe dan S yang terjadi karena proses
hidrotermal,yang mana magma yang berupa unsur volatil berupa gas dan uap
yang mengandung unsur S , Fe, dan Cu tersebut bereaksi dengan unsur
yang berasal dari lareutan hidrotermal.
3. Galena,
mineral ini terbentuk dari proses pengenadapan magma .Dimana magma yang
bersifat pijar pada stadium early magmatis kemudian karena gaya berat
sehingga unsur yang cukup berat akan terakumulasii kebawah kemudian
terkristalisasi membentuk galena dalam bentuk endapan segregation.
4. Hematit,
Mineral hematit merupakan salah satu jenis mineral yang banyak
mengandung unsur oksidasi besi,yang terbentuk dari proses oksidasi.
Adapun proses pembentukannya adalah batuan asalnya yang berupa batuan
beku basa dan banyak mengandung unsur Fe atau besi bercampur dan
bereaksi dengan unsur unsur yang dapat menyebabkan terjadinya proses
oksidasi dan electrolisis seperti oleh unsur Cl dan O pada kondisi
tropis-subtropis .Endapan endapan yang seperti ini dapat dijumpai
sebagai endapan marin disebabkan oleh karena didaerah tersebut unsur
yang menyebabkan electrolisis seperti NaCl sangat melimpah.
5. Kuarsa,
Mineral kuarsa dengan komposisi kimia SiO2. yang dapat dijumpai pada
stasiun tiga. Merupakan hasil pembekuan magma yang bersifat
volatil,dimana magma ini bergerak naik kepermukaan dari endapan ini
merupakan proses hidrotermal khususnya pada kondisi epitermal dimana
suhu pembentukannya sangat rendah yaitu dibawah 500C ,Proses pembentukan
endapan terjadi karena magma sisa yang berasal dari sisa diferensiasi
magma pada beberapa tahap sebelumnya yang dalam kondisi atau bentuk
volatil berupa gas gas dan fluida bergerak keatas menuju ke permukaan
mencari rekahan dan pori pori yang ada pada suatu batuan khususnya
batuan samping kemudian mengisi pori tersebut kemudian membeku
membentuk kuarsa.
6. Sphalerit,
Mineral ini mempunyai ciri berwarna hitam,merupakan salah satu jenis
mineral hasil mineralisasi yang terbentuk karena reaksi batuan samping
dengan batuan beku atau karena naiknya magma yang bersifat folatril
kemudian bereaksi lingkungan sekitar.
7. Magnetit,
Magnetit pada daerah penelitian dapat dijumpai pada stasiun 1 yang
mana keberadaan mineral ini merupakan hasil mineralisasi dari magma yang
bersifat folatil kemudian mengisi rekahan antar batuan yang klemudian
berinteraksi denganunsur unsur diupermukaan termasuk didalamnya pengaruh
hidrotermal.
Selasa, 01 Januari 2013
PERAK NITRAT
Perak nitrat atau yang dikenal dengan rumus molekunya yaitu AgNO3 adalah senyawa kimia yang memiliki kegunaan yang banyak. Menurut sejarahnya, para ahli kimia kuno menamakan perak sebagai ‘luna’, sehingga menyebut sebagai ‘lunar caustic’ yang tak lain dan tak bukan adalah perak nitrat. Dan senyawa ini lebih tidak sensitif terhadap sinar matahari daripada perak halida..
Kegunaan perak nitrat
pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama yaitu, dalam
bidang industri dan dalam bidang medis/kedokteran.
Membuat senyawa ini
menjadi senyawa yang banyak digunakan diberbagai bidang aplikasi, antara lain:
1.
Bidang
Kedokteran
·
Obat
tetes mata
·
Kedokteran
Gigi untuk menyembuhkan luka yang terlihat di dalam mulut*.
2.
Bidang
Industri
·
Cermin
·
Plating
·
Pewarna
dan tinta
·
Bahan
peledak
·
Fotografi
·
Keramik
PERAK NITRAT
Perak nitrat atau yang dikenal dengan rumus molekunya yaitu AgNO3 adalah senyawa kimia yang memiliki kegunaan yang banyak. Menurut sejarahnya, para ahli kimia kuno menamakan perak sebagai ‘luna’, sehingga menyebut sebagai ‘lunar caustic’ yang tak lain dan tak bukan adalah perak nitrat. Dan senyawa ini lebih tidak sensitif terhadap sinar matahari daripada perak halida..
Kegunaan perak nitrat
pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama yaitu, dalam
bidang industri dan dalam bidang medis/kedokteran.
Membuat senyawa ini
menjadi senyawa yang banyak digunakan diberbagai bidang aplikasi, antara lain:
1.
Bidang
Kedokteran
·
Obat
tetes mata
·
Kedokteran
Gigi untuk menyembuhkan luka yang terlihat di dalam mulut*.
2.
Bidang
Industri
·
Cermin
·
Plating
·
Pewarna
dan tinta
·
Bahan
peledak
·
Fotografi
·
Keramik
Minggu, 30 Desember 2012
GANESHA MINERAL PADA MAGMATIK
Pengertian Lingkungan Magmatik :
Lingkungan magmatik dikarakteristik oleh temperatur tinggi hingga
menengah dan tekanan dengan variasinya cukup lebar. Mineral yang
terbentuk berhubungan dengan aktivitas magma yaitu cairan silikat panas
yang menjadi bahan induk batuan beku.
Batuan beku merupakan hasil kristalisasi magma, suatu lelelhan panas
yang mengandung unsur - unsur penting secara kuantitatif yaitu O, Si,
Al, Ca, Mg, Na, dan K dan dalam jumlah kecil hampir semua unsur - unsur
lainnya kristalisasi mineral dan magma menghasilkan konsentrasi unsur -
unsur minor dalam cairan sisa dan konsentrasi zat – zat volatile,
seperti H2O, CO3, N2, senyawa sulfur dan boron serta HCl dan HF.
Larutan sisa tersebut menghasilkan pegmatite dan vein hidrotermal (urat -
urat hidrotermal ) kadang – kadang terbentuk di dalam batuan beku yang
telah memadat dan dalam rekahan. Rekahan dan batuan sampingnya, bahkan
dapat mencapai permukaan berupa gas - gas menimbulkan fumarol – fumarol
atau larutan – larutan membentuk hot spring.
Dalam lingkungan magmatik ada ada empat tipe mineral yaitu :
§ Batuan beku
§ Pegmatit
§ Vein Hidrotermal
§ Endapan – endapan hot spring serta fumarol
1. Batuan Beku
Mineralogi batuan beku cukup sederhana hanya 7 mineral atau grup mineral
yang umumnya terdapat dalam jumlah banyak di dalam batuan beku yaitu
kuarsa, feldspar, felsparthoid, hornblende, biotit dan olivine dan dapt
diklasifikasikan sebagai mineral pembentuk utama ( essential constituens
). Beberapa mineral lain terdapat dalam jumlah kecil, antara lain
magnetit, ilment, dan apatit dan diklasifiksikan sebagai pembentuk
(accessory constituens ).
Mineral – mineral batuan beku baik utama maupun tambahan juga sebagai
leucocratic ( batuan terang ) dan melanocratic ( batuan gelap ).
Penggolongan ini juga dapat merupakan penggolongan secara kimia,
memisahkan kuarsa dan sodium, potassium serta kalsium aluminosilikat dan
mineral – mineral ferromagnesian ( piroksen, hornblende, bioti, dan
olivine).
Tabel Mineralogi batuan beku
Leucocratic
|
Melanocratic
| |
Utama
|
SiO2
Kuarsa, tridimit, dan kristobalit
Felspar
K-Felspar : Ortoklas, mikrolin
Perthit : K-Felspar – albit intergrowth
Na – Ca Felspar : Plagioklas
Felsparthoid
Nephelin
Leusit
Sodalit
Kankrinit
Pada beberap batuan vulkanik
|
Olivin
Piroksen
Enstatit
Hipersin
Augit
Hornblende
Biotit
|
Tambahan
|
Apatit
Muskovit
Korundum
Sphene
Zirkon
|
Ilmenit
Magnetit
Pirit
Piorit
|
Tabel Klasifikasi batuan beku secara mineralogy
Mineral Pembentuk
|
K-Felspar/pertit terbanyak
|
K-Felspar plagioklas
± sama
|
Plagioklas
feldspar terbanyak
|
Sedikit atau
tanpa felspar
| |
An <50%
|
An 50 %
| ||||
Ada kuarsa
|
|
|
|
| |
|
A. Monozit
B. Latit
|
|
|
A.Piroksen, Peridotit, Dunit
B.Limburgit
| |
|
|
|
| ||
Keterangan A. ( Tipe Plutonik)
B. ( Tipe Vulkanik )
Pengaruh lingkungan geologi terhadap batuan akan terefleksi pada ukuran
butiran mineralnya. Mineral pada batuan tipe vulkanik berbutir halus
karena melalui proses pendinginan yang cepat kadang terdapat mineral
butiran agak kasar disebut fenokris. Pada batuan plutonik mineral
berbutiran kasar, karena pendinginan yang perlahan sehingga memberikan
kesempatan Kristal tumbuh besar.
2. Pegmatit
Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma.
Sebagian kristalisasi magmatik awal dan tekanan di sekeliling magma,
maka cairan residual yang mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan
sekeliling sebagai dike, sill, stokework.
Proses kristalisasi fraksional pada magma akan membentuk suatu cairan
sisa berupa cairan silikat. Cairan ini tidak selalu cai karena adanya
konsentrasi volati. Bila tekanan volatile mencukupi akan menyebabkan
cairan terinjeksi di sepanjang permukaan lemah pada batuan sekeliling
yang mungkin merupakan bagian dari batuan beku intrusi yang sama. Dengan
jalan inilah pegmatite dan vein hidrotermal terbentuk.
Pegmatite dijumpai berasosiasi dengan batuan – batuan plutonik (umumya
granit). Pegmatite – pegmatite granit umumnya terdiri dari kuarsa dan
alkali feldspar, dan sedikit muskovit dan biotit. Pegmatit mempunyai
tekstur besar butir kasar dan biasanya berbentuk tabular atau pipa.
Pegmatite sangat sederhana dalam hal kimiawi maupun mineralogy tapi
pegmatite komplek disebabkan oleh kandungan unsure yang jarang dan
mineral yang tak umum. Pegmatite penting secara ekonomi dan telah
dimanfaatkan untuk keperluan industri mineral seperti : feldspar,
muskovit, plugopit, turmalin, dan kuarsa.
3. Endapan Hidrotermal
Endapan hidrotermal merupakan pengembangan pegmatik dan terbentuk dari
larutan yang lebih dingin dan encer. Ciri khas endapan hidrotermal
adalah urat – urat ( vein ) yang mengandung sulfide, yang terbentuk
karena pengisian rekan atau celah – celah pada batuan semula. Namun
banyak juga yang berupa suatu massa tak teratur, yang telah mengganti
sebagian atau seluruhnya.
Secara luas, endapan hidrotermal dibagi menjadi 3 tipe :
§ Endapan hipotermal terbentuk antara 300 – 500 0C
§ Endapan mesotermal terbentuk antara 200 – 300 0C
§ Endapan epitermal terbentuk antara 50 – 200 0C
Endapan hipotermal dicirikan oleh mineral kasiterit, skhelit, wolframit,
dan molidenit. Kuarsa adalah geng utama yang diikuti pula oleh
turmalin, topas, dan mineral silikat lainnya.
Endapan mesotermal, mineral yang mencirikannya adalah mineral sulfide(
pirit, markasit, galena, sfalerit, khlakosit, bornit, enargit,
tetrahedrit, urat kuarsa mengandung emas yang merupakan endapan penting.
Endapan epitermal, dicirikan oleh mineral stibirit, sinobar, perak
native, sulfide perak, atau argenit, emas native, dan mineral – mineral
emas lain seperti krenerit, kalaverit, dan silvanit, yang berturut –
berturut menghasilkan antimon, air raksa, perak, dan emas mineral
gengnya adalah kuarsa, opal, kalsit, aragonite, dolomt, fluorit, dan
barit.
4. Endapan – Endapan Hidrotermal
Larutan hidrothemal kadang kala dapt permukaan dan muncul sebagai air
panas. Pada umumya larutan – larutan mempunyai kadar mineral yang
rendah. Mineral yang sering terdapat di sekeliling air panas adalah
silica dan opalin. Namun kadang – kadang dapat dijumpai pada sejumlah
kecil sulfida – sulfida.
Endapan Fumarol yang terpenting adalah endapan yang tedapat pada gunung
api yang masih aktif , dengan gas –gas panas yang sangat aktif
mengendapkan mineral – mineral seperti sulfur dan mineral – mineral lain
seperti magnetit, molibdenit, realgan, galena, dan sfalerit.
NIKEL INDONESIA
1. Sifat bahan galian :
Nikel logam yang sangat keras dan putih mengkilap terdapat di dalam
kerak bumi sebanyak kl. 0,02%. Diantara mineral-mineral yang mempunyai
arti komersil ialah pentlandit (Ni,Fe)S dan garnirit (n NiSO3 mHgSiO3.H2O).
Pada umumnya bijih nikel dibedakan sesuai dengan mineralnya menjadi
bijih sulfidik yang terjadi karena replacement dan magmatic dan
keduabijih silikat yang terjadi karena pelapukan (laterisasi) dari
batuan ultra basa. Bijih nikel Indonesia termasuk tipe yang disebut belakanga.
2. Penyelidikan/Penambangan :
Penyelidikan bijih nikel laterit dilakukan dengan test pit. Untuk bijih sulfidik, geofisik dan pemboran inti.
Penambangan bijih nikel larerit (contoh Pomalaa) adalah pertambangan
terbuka. Lapisan penutup dikupas dengan bulldozer, bijihnya digali
dengan power shovel. Bijih nikel sulfidik ditambang secara tambang
terbuka atau tambang dalam tergantung keadaan cebakannya.
3.Pengolahan :
Seperti besi laterit demikian juga nikel laterit belum dikenal cara
pengolahannya. Nikel sulfidik diolah secara flotasi. Kadang-kadang
sebelumya dikonsentir dulu secara magnetik separation.
4. Metalurgi:
Ekstrak nikel dari bijihnya yang konvensionil dilakukan secara
pyrometallurgy. Sekarang telah dtemukan proses pengolahan bijih nikel
secara hydrometallurgy yaitu “ammonia – pressure leach process” dan
“sulfuric acid – pressure leach process”.
Bijih laterit kadar rendah (± 1,5 %) dilebur dengan menambahkan besi dan ferrosileon dijadikan ferronickel (feronikel)
5. Penggunaan
Nikel digunakan dalam : campuran logam-logam bukan besi (non ferrous
alloys), baja tahan karat, (stainless stell), baja jenis lain, melapisi
logam-logam (electroplating), campuran yang tahan akan listrik dan suhu
tinggi, besi tuang, katalisator, keramik, magnet, dan lain-lain.
No
|
Tempat ditemukan
|
Keadaan endapan
|
Reserve
|
Diselidiki oleh
|
1
2
|
Sulawesi Tengah
Soroako
Buluhalang
|
Hasil weathering dan lixiviation dari peridotit
….
|
700.000 ton
320.000 ton
|
Diens v/d Mijnbouw
…
|
1
2
3
4
|
Sulawesi Tenggara
Pomalaa
Tg. Pakar
Pulau Maniang
Pulau Lemo
|
Nikel laterit
…
…
…
|
1.372.543
…
62.000
…
|
PN Aneka Tambang
…
…
…
|
Langganan:
Postingan (Atom)









